Atau mungkin juga aku akan terlalu penat terbang dan berharap kedua sayapku lepas berganti punggung yang indah tanpa bulu angsa....
Aku tak bisa memilih....
Aku terlahir dengan sayap ini dikedua punggungku.....dengan pedang panjang yang seolah terpatri ϑî tanganku yang seakan selalu siap untuk membantai apapun yang menyakitimu...
Tak ada yang dapat melihat bahwa sebetulnya aku mempunyai mata tajam laksana mata pedangku....karena mereka hanya bisa melihat lubang hitam mataku saja.... Tapi....dirimu bisa melihat kedua mataku yang penuh dengan rindu dan cinta untukmu meski aku dalam keadaan marah sekalipun.....
Lihatlah aku....yang tak sempurna dibandingkan dirimu....
Dirimu amat lah tampan....dengan kedua kaki kokoh menjejak bumi....tangan kekar yang damai saat memelukku dan membelai sayapku....dan tubuhmu yang tinggi mampu mendampingiku bersisian saat kita bicara...
Tak ada sayap ϑî punggungmu....
Tak ada pedang ϑî tanganmu...
Tak ada desisan aneh dari bibirmu yang selalu tersenyum untukku...
Dirimu manusia sempurna....untukku..
Dan itulah mengapa kita bagai langit dan bumi....
Perbedaan itu tak membuat kita menjauh....
Justru cinta kita subur ditengah pertikaian....
Aku memang malaikat kecilmu....yang selalu terbang disekitarmu...menjagamu...
Dan dirimu memang penyejuk sejati...eratnya pelukmu ϑî tubuhku....remasan jemarimu ϑî antara sayapku...nafas indahmu diantara dengusan ciuman kita....mampu membuatku melepas pedang ditanganku....menjatuhkan aku pasrah dalam ketidak berdayaan.....meluluhlantakkan segenap perlindungan diri tanpa ada rasa cemas...karena aku percaya padamu...pada cinta kita..
Aku memang mencintaimu...
Walau kita mungkin tak bisa bersatu....
Tapi keyakinanmu akan cinta sejati mampu membuat kita bertahan hingga kini...
Engkau hadir mengobati luka sayap patahku tanpa bertanya peperangan apa yang sudah kulewati...
Tanpa keluh kesah engkau membantuku membersihkan tubuhku yang penuh berlumuran darah....
Pun dirimu masih dalam diam tanpa kata saat melepaskan pedangku dari jemariku hanya agar jemarimu mampu menelusup dalam jemariku 'tuk meredakan kemarahan sisa peperanganku....
Bagaimana aku bisa hidup tanpamu wahai kasih....
Memilikimu telah membuatku ada tempat untukku untuk selalu kembali pulang....
Aku tau....rasa cemasmu selalu dapat ku hirup meski engkau belum tepat disampingku...
Bukan cemas akan aku yang akan melukaimu....tetapi justru engkau cemas akankah aku tetap mencintaimu hingga akhirmu tiba.....
Berdua kita tau....
Aku tak bisa berubah menjadi manusia sepertimu...
Dirimu pun tak bisa berubah seperti ujudku....
Kasih....cintaku tak mengenal akhir.....meski dirimu berakhir diduniamu....
Aku tetap selalu melihat rupamu seperti saat kita bertemu pertama kali ϑî tepi sungai ketika aku tergolek lunglai karena sayapku patah untuk yang kesekian kalinya....
Dan kebaikan hatimu menutupi ketakutanmu untuk mendekatiku kala itu.....dan memang itulah dirimu....
Aku tau.....tubuh nyatamu memang makin lemah....tulangmu seakan tak mampu lagi menopang hidupmu....tapi...bukankah itu gunanya aku bersayap....membawamu kemanapun kau ♍ǟú ....bahkan hingga kita menembus awan dan duduk menikmati senja diatasnya....
Deritaku tak terperi adalah saat dirimu sakit.... Aku tak mampu berbuat apa pun....
Seakan koyakku....sayap patahku....luka berdarahku....tak ada artinya dibanding hati ini yang melolong sedih melihatmu sakit....
Dan kau pun selalu menutup diri bila kau sakit....hanya semata agar aku tak jatuh....
Kasih....kebaikanmu membuat aku makin tak berdaya.....
Aku....meletakanmu dalam diam ditengah hatiku....agar aku senantiasa dapat melihatmu tersenyum...
Tak ada tangis saat dirimu pergi dalam terbangku....
Hanya tatapan teduhmu mencari kepastian dalam hitam mataku bahwa aku tak akan pernah melupakanmu....
Aku tak mampu berkata menjawab.....aku hanya diam mendekapmu dalam peluk terbangku menembus langit seolah aku sendiri mampu untuk mengantarmu kembali ke Sang Pencipta....aku selalu menatapmu kembali untuk memastikanmu bahwa aku memang tak akan pernah melupakanmu dalam keabadianku....
Aku akan selalu menunggumu ϑî duniaku....berharap mungkin kelak Sang Pencipta bermurah hati mengubahmu menjadi sepertiku atau sebaliknya...hanya agar kita bisa bersama lagi....
Tak ku tunjukkan padamu bila aku meragukan Sang Pencipta merubahmu menjadi hina sepertiku.....
Toh dirimu tak menghiraukan itu... Dirimu sudah cukup dengan memilikiku hingga akhirmu...
Kau memang tak abadi....tapi cintamu akan selalu abadi bersama dengan keabadianku.....
Aku.....selalu menunggumu ϑî tepi cakrawala....karena ϑî batas ini lah aku bisa melihatmu yang selalu tersenyum untukku....tak menghiraukan gurauan para bidadari cantik disekelilingmu....
Dan.....kita berdua pun sama - sama menunggu....
Bilakah keajaiban itu diberkahi untuk kita.......
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!